Budayawan Minta Warisan Budaya Kesultanan Palembang Darussalam Harus Dijaga
KANALSUMATERA.com - Pesatnya perkembangan Provinsi Sumatera Selatan khususnya Kota Palembang membuat kekhawatiran beberapa pihak. Salah satu elemen yang merasa khawatir dengan pesatnya perkembangan Kota Palembangan adalah kelompok budayawan.
Salah seorang budayawan yang merasa khawatir adalah Vebri Al Lintani. Vebri menyebut bahwa identitas Palembang Darussalam sedang diambang krisis kehancuran, dimana banyak yang hilang dari budaya tersebut seperti sebuah pembelajaran tentang budaya maupun warisan sosial.
Kota Palembang sudah menjadi bagian dari sejarah Negara Kesultanan Palembang Darusalam sejak tahun 1966. Sepanjang usia itu, sudah banyak warisan yang ditinggalkan oleh Kesultanan Palembang Darusalam.
Baik itu peninggalan warisan budaya maupun bangunan. Sayangnya. warisan budaya di Kota Palembang mengalami krisis akut saat ini,. Banyak warisan sosial yang sudah dilupakan oleh kalangan masyarakat maupun pemerintah.
“Pemkot Palembang sebagai pewaris tahta, harus bergerak cepat untuk membangkitkan lagi tentang sejarah Palembang Darussalam,” jelasnya saat diwawancarai Sripoku.com, Senin (17/12/2018).
Baca: Herman Deru Bakal Ubah Kota Palembang Melalui Kawasan Jakabaring
Menurut Vebry, kondisi yang sudah akut ini membuat banyak tradisi kebudayaan yang mencerminkan identitas Palembang Darussalam sudah hilang.
“Seperti aksara-aksara Palembang yang sudah tidak ada lagi, banyak hal yang harus dibangun tentang kebudayaan Palembang Darussalam,” ujar Vebri.
Vebri juga menambahkan, identitas tidak sebatas dalam bentuk saja seperti tanjak, songket, makam-makam atau Benteng Kuto Besak (BKB) dan masih banyak lagi. Namun sifat kesukuan Palembang juga harus diperhatikan seperti norma-norma adat istiadat, seni tutur hingga keagamaan.
“Tidak ada regulasi yang mengeksplorasi kebudayaan Palembang, padahal banyak nilai-nilai kearifan lokal yang dapat membantun pemerintah mengastasi masalah,” ujarnya.
Sebagai budayawan, ia mendorong Pemkot untuk membuat Peraturan Daerah (Perda), semisal memasukan kebudayaan identitas Palembang Darussalam kedalam mata pelajaran.
Baca: Jalan Kota Palembang Truk Barang Berat 8 Ton Dilarang Melintas
"Bukan hanya tagline Darussalam saja yang dipakai, tetapi visi tidak pas dengan Kesultanan Palembang Darussalam. Ini agar pemerintah kota memerhatikan dan membangun kota berbasis Darussalam,” ujar Vebri.
Lanjutnya lagi, krisis ini juga akibat pembangunan yang terlalu memerhatikan ekonomi dan tidak mementingkan budaya asli yang terus tergerus budaya-budaya lain yang masuk.
“Kita ini terjajah oleh kapitalisme, pembangunan yang tidak memerhatikan budaya menjadi salah satu penyebab hilangnya kearifan lokal Palembang,” ujarnya.
